Breaking News
Loading...
Rabu, 12 Desember 2012

Bocah 14 Tahun Memeluk Islam


The real story from M. Syamsi Ali, M.A.>>>>>>


Lahir beragama Kristen, Justin Hudson tak pernah merasa terikat dengan Kristen. Ia pun bersyahadat dan mengganti namanya dengan Nasir Abdul Basit Abdul Muhyi Islam.

Pagi itu, Senin 19 Maret, seperti biasa saya hadir di Islamic Center of New York sekitar pukul 11 pagi. Suasana Islamic Center masih sepi dan hanya terlihat beberapa orang sedang sholat sunnah di ruang bawah. Penjaganya menyapa dan menyampaikan bahwa saya sudah ditunggu oleh dua orang remaja di ruang resepsionis. Saya pun bersegera masuk dan sebelum sempat menyampaikan salam, salah seorang dari remaja putra tersebut mengucapkan salam.


Setelah menjawab salamnya, saya berlalu, tapi kemudian dipanggil oleh resepsionis bahwa ada yang ingin masuk Islam. Saya tidak percaya karena yang ada di tempat tersebut hanya dua anak remaja dan keduanya tampak seperti anak-anak Muslim. Bahkan dari wajahnya, salah satu dari mereka adalah keturunan Asia Selatan (Pakistan/Bangladesh). Saya meminta waktu untuk ke kantor saya dan meletakkan beberapa buku yang saya bawa.

Setelah istirahat beberapa saat, saya menelpon resepsionis agar kedua remaja itu dipersilahkan masuk ke kantor. Tak berapa lama masuklah kedua remaja itu ke kantor dengan wajah ceria, tapi sedikit tampak khawatir. Untuk menajdikan suasana lebih bersahabat, saya ulurkan tangan dan mengucapkan salam kepada keduanya. Ternyata anak yang berwajah Asia Selatan itu adalah anggota jamaah Jamica Muslim Center tempat saya diamanahi sebagai direktur.

"I've seen you many times, but you don't know me," sapanya.
Saya tanya, "Where did you see me?"
"At JMC," jawabnya singkat.
Lalu saya berbalik tanya "Why you are here?"

Kedua remaja itu saling memandang lalu menjelaskan bahwa keduanya adalah anak SMA Hunter di Kota New York. High School ini adalah sekolah SMA spesial dan hanya mereka yang lolos tes atau memiliki nilai di atas rata-rata yang bisa diterima. Menurutnya, sejak awal mereka diterima di seklah itu, mereka sudah bersahabat.

Saya kemudian bertanya lebih lanjut, "What then brings you here?"
Tiba-tiba yang satunya lagi menyela, "I want to be a Muslim"

Saya baru yakin bahwa memang pagi itu ada seorang yang ingin masuk Islam. Saya lalu tanyakan nama dan agama yang dianut.
"I am Justin Hudson." Kemduian dia terdiam.

Saya kemudian bertanya lagi, "What is your current belief?"

Dia seperti ragu menjawab, lalu secara diplomatis mengatakan, "I was born a Christian but never felt attached with my Christianity." Lebih jauh lagi dia menjelaskan bahwa dia memang yakin adanya Tuhan, tapi secara formal dia belum pernah merasa terikat dengan agama Kristen. "Since I studied Islam I feel really connected with it." tambahnya.

Remaja keturunan Afro-Amerika ini tampak lugu, walaupun terdengar kata-kata cerdas dari ucapannya. Segera saya mulai menjelaskan bahwa sebenarnya secara informal dia sudah Muslim karena sudah  meyakini bahwa Islam ini adalah agama yang benar. "Your personal faith is the real thing that turns you to this religion. What you need right now is formalizing your faith by declaring it in front of some witnesses."

Karena Justin memang sudah menghafal 5 rukun Islam, saya cuma menjelaskan rukun Iman yang harus diyakini. Tentunya dengan sedikit penjelasan lebih jauh mengenai pergaulan remaja dalam konteks masyarakat Amerika. Justin tampak memperhatikaan dengan sekasama dan sesekali menganggukkan kepala. "Do you have any further question?" tanya saya. Dia cuma menggelengkan kepala pertanda bahwa dia tidak ada pertanyaan mengenai Islam saat itu.

Saya segera menuntun dia untuk mengucapkan syahadat, tapi dia segera menyela, "Can I tell you my Islamic name?"

Saya menjawab "Of Course! Do you have your Islamic name even before you shahadah? What's your name?" Dia menyebut namanya dengan cepat dan hampir saja saya tidak mengerti. "It's too long," kata saya setelah mendengar nama tersebut.

Karena tidak jelas penyebutan itu, saya sekali lagi bertanya, "Can you tell me your name once again?"

Kali ini dengan pelan tapi seolah sangat familiar dengan penyebutan nama tersebut. "Nasir Abdul Basit Abdul Muhyi Islam" jawabnya mantap. Saya katakan kepadanya, biasanya nama panjang itu cukup nama dengan tiga kata. Tapi nama dia ini sedemikian panjang, itu pun belum dengan last name nya Hudson. Tapi tampaknya dia sudah cukup mantap dengan penamaan itu. Bahkan sudah paham betul dengan makna tersebut.

Lalu saya ingatkan bahwa syahadat ini adalah awal langkah memasuki ISlam. Tentu ketika kalian memasuki sesuatu sudah seharusnya dilakukan dengan senang hati dan mantap. Hati yang mantap yang saya maksudkan adalah, "Be sincere, because this is your pledge to you Lord the Creator." Si Justin sedikit mengangguk. Disaksikan oleh temannya, Ali, dan seorang jamaah, pagi itu ia dengan mantap mendeklarasikan imannya, "Asy hadu an laa ilaaha illa Allah- wa asy hadu anna Muhammadan Rasululullah." Lalu dilanjutkan dengan ucapan selamat dan pekikan takbir oleh dua orang yang menyaksikan.

Sebelum meninggalkan Islamic Center untuk kembali ke sekolahnya, saya mewasiatkan Nasir Islam-- demikian ia menyingkat namanya-- untuk selalu menambah ilmu keislaman. Saya ingat ekpadanya mendapatkan hidayah pada saat masih belia.

"You have a wide opportunity to be a better Muslim tahn many of us" kata saya. Juga tak lupa saya nasihatkan untuk tetap berperilaku baik kepada kedua orang tua, bahkan lebih baik lagi. Tentunya tidak lupa saya ingatkan bahwa iman ini adalah amanah untuk juga disampaikan kepada teman-teman yang lain. Nashir tampak serius mendengarkan nasihat-nasihat itu.

Pada akhirnya dia meninggalkan Islamic Center dengan doa. Semoga Nasir selalu dijaga di jalan-Nya. Aamiin!

25 April 2007Sumber : Ali, Syamsi. 2009. The True Love in America. Jakarta: Gema Insani Press.

-->

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer